Selasa, 01 Februari 2011
bukan anak biasa
Dari pada merampok lebih baik mengamen. Kalimat ini merupakan potongan dari lirik lagu mereka. Ketika lampu merah menyala. Mereka berlari menuju jalanan. Angkot dan mobil pribadi menjadi sasarannya. Tidak hanya yang dewasa. Pengamen anak anak pun ada. Sepertinya mereka di komando oleh sesorang yang tidak jauh dari lampu merah itu. Orang itu pun tidak tahu di mana keberadaannya. Anak anak itu kadang hanya bermodalkan tepuk tangan dan nyanyian saja. Saat petugas penertiban datang mereka berlarian.
Langit senja ditutupi oleh gelapnya awan badai. Angin berhembus kencang. Rinai yang turun menghempas jadinya. Kuyup sudah badan mereka. Tepukannya semakin cepat. Nyanyiannya bercampur dengan gigilan.Belumlah remaja mereka sudah banting tulang. Akan kah mereka memang ingin membantu orangtuanya ?. jika memang begitu. Bisa dikatan mereka tidak lagi anak- anak yang masih ingin bermain. Agaknya mereka sudah remaja. Menempuh pahit getirnya dunia. Siang dan malam, pahit dan manis sudah mereka lalui.
Bagaimana dengan orang tua mereka ?. Mungkin sudah renta. Atau sedang sakit dan belum kunjung juga sembuh. Begitu juga saudaranya. Anggap saja mereka yang turun adalah anak sulung, yang menjadi tulang punggung keluarga. Pernah di suatu ketika. Seorang ibu mengawasi mereka. Belum tahu, itu orangtua mereka atau bukan. Tapi anak anak tersebut mendekati ibu itu. Mereka duduk bersama. Ketika lampu kembali merah. Mereka berlari kepersimpangan.
Heran, polisi yang menjadi pelayan rakyat. Kenapa tidak mengkhawatirkan anak anak itu. Jikalau memang bukan tugas mereka. Lantas siapa. Sat Pol PP kah ?. kantor mereka tidaklah jauh dari lampu merah itu. Masih bisa rasanya berjalan kaki. Dan itu pun tidak akan mengeluarkan peluh. Atau sesak napas yang bukan main. Jika ingin melihat petugas penertiban itu. Mereka sepertinya hanya bertugas jika ada surat tugas. Di saat bertugas pun. Mereka kadang keterlaluan. Bukan main kasarnya. Pentungan yang ditentengnya kesana kemari. Memang betul digunakan dalam arti sesungguhnya
Kasihan juga mereka. Dalam hati, mereka menjerit. Tapi mereka menutupi itu. Jika tahu mereka kepada siapa menjerit. Maka mereka akan berteriak. “ aku ingin bebas, dan aku ingin sekolah. Jika memang itu keadaanya maka itu adalah kewajaran. Pembangunan yang semakin bangkit agaknya menambah kehadiran merka. Walaupun pernah di tankap. Mereka tidak pernah jera rupanya.
Kehidupan kota, yang dihiasi lampu indah jikalau malam. Lantunan klason apabila sudah pagi. Kesibukan akan pekerjaan kantor. Tapi bagi mereka.Kebutuhan akan perekonomian diprioritaskan dahulu. Karena itu mereka di jalanan. Satu hal yang mengganjal. Yaitu : mereka tidak mau di karantinakan disuatu tempat. Atau disekolahkan, apalagi di ajarkan sesuatu yang sangat berguna. Mereka sudah biasa di jalanan. Lahir dijalanan. Bekerja di jalanan. Mati pun mungkin juga di jalanan. Kembali pada potongan lirik lagu itu. Dari pada merampok lebih baik mengamen. Halal itu sudahlah cukup.
Belumlah terlihat. Siapa yang bertanggung jawab akan hal ini. Kalau kepada orantua mereka. Tidak lah mungkin. Kepada pemerintah pun jugalah tidak mungkin. Orangtua mereka sudah lah miskin dan ada yang tega pada mereka. Pemerintah masih saja terpaku pada koruptor yang bersembunyi dibawah meja. Masyarakat mungkin iya. Tidak ada lagi guna bergantung pada pemerintah. Mereka hanya memperpanjang dan menjalankan prosedur. Adapun mereka juga sedang mengurusi kita. Rakyat Indonesia yang malang dan malu pada rakyat asing.
Soekarno pernah berkata.”berika aku sepuluh pemuda akan ku goncangkan dunia”. Anak jalanan adalah bagian dari mereka. Pemuda yang menggoncang kan dunia. Liintang pungkang mereka seharian. Mencari nafkah untuk sesuap nasi malam hari. Tidak kah masyarakat kasihan akan mereka, anak jalanan.
Benar juga. Kadang untuk apa kita mengasihi mereka. Mereka pun tidak akan pernah berhenti untuk itu. Tapi biarlah itu ditiup angin. Mereka tidak lah salah. Mereka hanya terlanjur basah. Kalau mereka tidak dilahirkan di jalanan. Maka mereka akan tertawa gembira disekolahan. Perlu ada rasa yang dalam kalau menemui mereka.
Akan ada kegoyahan hati. Jika menatap mata mereka itu. Perasaan benci, tidak sudi , dan jijik wajarlah ada. Karena kita memang tidak seperti mereka. Bagi mereka sudah lah sopan dan baik pakaian itu. Sudah nyaman tidur di emperan. Dan sudah kenyang makan di trotoar jalan raya.
Berbicara mengenai agama. Mereka pun belum lah tahu betul dengan agama. Bisa dibilang mereka islam disebabkan keturunan. Ini akan dikembalikan kepada pemuka agama. Pemuka agama yang tidak menyesatkan. Maksudnya, pemuka agama yang memang menjalankan perintah allah dan menjauhi larangannya. Mereka yang di jalanan itu bisa dikatakan bagian dari orang awam. Mereka bodoh jika ditnya permasalahan sains. Sedikitnya mereka hanya paham perihal kunci gitar, untuk membentuk lirik indah.
oleh : almatin avichena
anak jalanan ....tarandam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tuliskan kritik dan saran serta pertanyaan yang membangun.