Selasa, 26 April 2011

dimana si nenek tua

nenek tua berpayung lusuh

berjalan antara kalumbuk sampai anduriang

pinggiran lubuk lintah di lewati tanpa alas kaki

mengelabui mata sang dermawan



panas, hujan dan badai meraba raba dirinya

dengan baju tipis ia kuyup

tangannya menggigil

sampailah kaus kaki yang menhangatkan tangan tua itu



sekarang dimanakah ia

hingga tersirat di hati ku ingin menemuinya

nenek tua berpayung lusuh

dimanakah engkau

hingga tiada kabar ku dengar dari angin yang bertiup



nenek tua berpayung lusuh

30 menit angkutan kota

senja telah menjemputku

ronanya tidak lagi merah

karena awan hitam telah berbausr di arah laut

angkot ungulah yang sedang ku tunggu



setiap menit ku ditemani hujan

sampailah angkot itu di hadap ku

sungguh kisah yang sebentar 30 menit bersamanya



seorang wanita yang belum pernah ku jumpa

paras menawan dengan kacamata

hingga kami hanya berdua



supir terus memperhatikan laju kendaaraannya

pesonanya kian memaksa

hingga tatapan ku tak teralihkan jua

dia tertawa

aku pun tertawa



nona siapakah gerangan

senyum menawan

senyum yang shalehah

sampai kami belum bersua lagi

buat mu sahabat

nyanyian rindu dari burung balam

menyingkap problema hidup ku

tanpa mu sahabat aku bukan siapa siapa



guyonan yang kita buat dulu kini telah berlalu

tak akan tertulis kecuali dalam diari mu dan aku

rasa :

cinta ,sedih , bangga , marah telah kita rajut

dan kini menjadi pakaian malu

bukan malu akan aib

tapi malu karena tingkah yang sembrono



si burung balam kini terbang menjulang

mecari makan balam balam kecil

dan kita bernostalgia menyimak labuhan ombak



sahabat kelak kita akan padu kembali.

cerita itu semoga menjadi pecut kuda pacu yang kita pelihara dulu

dan satu persatu kita masuk ke garis finis

dan penonton pun bersorak ria



almatin avichena/ aidina fitra

di malam yang indah

padang / 22 / 4/2011

19 :02

Senin, 18 April 2011

musafir cinta

terik panas matahari menyambung sepi ku

berjalan antara gurun dan oase

mencari labuhan hati di jalan tak berujung

siapakah dia ..?



antara hidup dan mati

aku menahan haus dan lapar

mungkinkah ini karma dari ranah ku

yang belum mengizinkan ku mencari tulang punggung yang berserak itu



pulang lah, pulang lah diri ku pada asal ku

pulang lah, pulang lah



almatin avichena / aidina fitra 16:43 pm

Minggu, 17 April 2011

mata

pancaran cinta mata mu mengoyak hati ku yang bata

perlahan ia retak lalu pecah hingga berkepingmatamu duhai kekasih ku

aku luluh lantak..

bersama kepingan hati yang bata

berlutut di bawah tahkta yang ku bangun menjulang langit



tapi



pesona matamu menebarkan bunga di sekelilingku

dari kuncup hingga mekar

bunga itu melayang menebarkan wangiannya

lalu aku akan berkata : "bersediahkah engkau ku pinang ?"

entah kenapa perkataan itu tersangkut antara nyawa dan hidup



ya..tuhan

jika aku ksatria tulang rusuk itu

mudahkan aku tuhan

kirimkan lah kepada ku malaikat-malaikat cinta

seperti engkau mengirimkan malaikat pada ksatria rasulullah



aku terpesona

aku terlena

sadarkan aku

jika

aku berada dalam kegelapan mata



almatin avichena / aidina fitrapadang 6.04 pm

Selasa, 05 April 2011

pusara terakhir

aku, terlena

ketika fakta telah membicarakannya di alam nyata

mereka adalah mayat mayat hidup

ketika

ku sebuti namanya satu persatu

mereka akan terkapar mengahadap langit yang biru

hooooiiiiii , aku pun bersorak lantang

tak ada satupun orang yang mendengar ku



aku terhenyak diam

lalu bingung akan diriku

siapa kah aku

hidup atau telah sampai ke pusara terakhir ku...

Selasa, 29 Maret 2011

cikeken: ingkari dolar

cikeken: ingkari dolar: "tak lagi terbayang ketika aku di lahirkan di rumah buk bidan tanpa nama lalu aku di badung dan di susui orang yang akan ku panggil mama ser..."

Senin, 28 Maret 2011

ingkari dolar

tak lagi terbayang
ketika aku di lahirkan di rumah buk bidan
tanpa nama
lalu
aku di badung dan di susui orang yang akan ku panggil mama
serta di nafkahi oleh orang yang akan ku panggil papa
kini aku yang dulu sudah merangkak
dan berjalan seterusnya berlari

hingga aku sering alpa dengan waktu
aku lalai
maka aku takut wail yang kudapati nannti

aku yang di gandeng keremajaan
menampung dolar dari mama dan papa
aku sedari itu
dan aku akan ingkari perbuatan itu
aku tak mau lagi menampung

aku akan mencari
mencari hidup ku bukan mencari uang
serta merta aku yang kini dikejar anjing
anjing anjing biadab
dimakannya daging yang kukumpulkan dari pencarian hidup ku
sampai aku kurus kering
dan kembali menampung dolar itu
maaf,, aku tak bisa ingkari itu


almatin avichena / aidina fitra
sungai sapih

Jumat, 25 Maret 2011

Bangkai Bunga

tidak akan ku tunggu gerimis

sampai aku bersajak di hadapannya

wanita cantik bersahaja

anggun parasnya, jernih matanya

tak akan ada orang yang tidak jatuh cinta padany



ku sebuti namanya berulang kali

hingga aku alpa akan pasal agama

ini kah pesolek sang wanita



jika aku lebih memilihnya

akan kah dia hadir pada rumah duka ku

duka orang tua kepadaku

duka sanak saudara kepadaku



jika tidak biarlah dia menjadi bangkai bunga ku

bangkai bunga yang ku sanjung dulu





almatin avihena

aidina fitra

16bmaret 2011

Jumat, 18 Februari 2011

JIKA AKU SEORANG PENYAIR

Andai saja aku lahir di tahun perang
Aku akan lari kepuncak bukit kemarau
Sambil menatap ribuan mayat tergolek
Ku toreh pisau ku kekulit kayu yang kering
Sajak saja indah akan terlahir penuh perjuangan
Dan
Mungkin aku akan dikenang seperti chairil anwar

Andai aku lahir di kota ramah
Kemana pun aku bertingkah orang orang ramah
Sambil duduk dihadapan padi yang dihembus bayu
Ku toreh kan pena ku
Sajak sajak indah akan lahir penuh cinta
Dan
Mungkin aku akan terkenal seperti rendra si burung merak

Andai saja aku lahir di kota sejuk
Aku akan duduk dikala geremis
Rambut ku basah tapi tak kuyup
Ku pandangi gunung gunung biru bercerobong
Ku torehkan pena ku
Sajak sajak indah akan terlahir mengenang masa
Dan
Mungkin aku akan terkenal seperti taufik ismail

Aidina fitra
19 februari 2011
sungai sapih

Selasa, 01 Februari 2011

Cerita Sepasang Peri

Rembulan begitu terang dikala gelap
Diwaktu shubuh matahari menyapa
Hai bulan beristirahatlah semalaman kamu temani manusia
Begitulah selanjutnya

Merekalah sepasang peri
Peri matahari dan peri bulan
Peri matahari, memberikan terang untuk bergiat
Peri bulan, memberikan terang untuk istirahat
Sayangnya mereka tidak pernah bersua
Sapaan mereka hanya disampaikan lewat dedaunan yang basah karena embun

Untuk : mawaddah
By : almatin avichena

dimana aku

kabutnya begitu tebal
lalu menjadi gelap
semuanya gelap,hitam
tiada warna lain selain hitam
petunjuk arah pun tidak ada

aku coba berjalan perlahan-lahan
aku papah mataku, tangan ku meraba raba
kaki ku mengeja langkahnya
ku harap kaki atau tangan ku merasakan sesuatu

aku mulai bosan , jenuh, dan ingin marah
ubun ubun ku mendidih
seperti ada yang menanak dalam kepala
ku bukak mataku
ternyata masih gulita..
masih saja hitam
aku sangat benci warna hitam
dia mengelabui ku

tidak.tidak tidak,
aku berteriak bak tarzan memanggil hewan
tiada seorang pun yang menjawab
kecuali gema ku berkata tidak


Nb Almatin Avichena : aku selalu terheran, bagaimana orang buta bisa berjalan. dan bagaimana mereka bisa menahan jenuhnya. ketika tidak ada satu warna pun yang mereka lihat kecuali hitam. aku tidak mau begitu.

inspirasi ku ketika melewati panti di kalumbuk,, disana banyak orang buta ,, coba lah kesana dan tanyakan bagaimana dia bisa melihat.

bukan anak biasa


Dari pada  merampok lebih baik mengamen. Kalimat ini merupakan potongan dari lirik lagu mereka. Ketika lampu merah menyala. Mereka berlari menuju jalanan. Angkot dan mobil pribadi menjadi sasarannya. Tidak hanya yang dewasa. Pengamen anak anak pun ada. Sepertinya mereka di komando oleh sesorang yang tidak jauh dari lampu merah itu. Orang itu pun tidak tahu di mana keberadaannya. Anak anak itu kadang hanya bermodalkan tepuk tangan dan nyanyian saja. Saat petugas penertiban datang mereka berlarian.

Langit senja ditutupi oleh gelapnya awan badai. Angin berhembus kencang. Rinai yang turun menghempas jadinya. Kuyup sudah badan mereka. Tepukannya semakin cepat. Nyanyiannya bercampur dengan gigilan.Belumlah remaja mereka sudah banting tulang. Akan kah mereka memang ingin membantu orangtuanya ?. jika memang begitu. Bisa dikatan mereka tidak lagi anak- anak yang masih ingin bermain. Agaknya mereka sudah remaja. Menempuh pahit getirnya dunia. Siang dan malam, pahit dan manis sudah mereka lalui.

Bagaimana dengan orang tua mereka ?. Mungkin sudah renta. Atau sedang sakit dan belum kunjung juga sembuh. Begitu juga saudaranya. Anggap saja mereka yang turun adalah anak sulung, yang menjadi tulang punggung keluarga. Pernah di suatu ketika. Seorang ibu mengawasi mereka. Belum tahu, itu orangtua mereka atau bukan. Tapi anak anak tersebut mendekati ibu itu. Mereka duduk bersama. Ketika lampu kembali merah. Mereka berlari kepersimpangan.

Heran, polisi yang menjadi pelayan rakyat. Kenapa tidak mengkhawatirkan anak anak itu. Jikalau memang bukan tugas mereka. Lantas siapa. Sat Pol PP kah ?. kantor mereka tidaklah jauh dari lampu merah itu. Masih bisa rasanya berjalan kaki. Dan itu pun tidak akan mengeluarkan peluh. Atau sesak napas yang bukan main. Jika ingin melihat petugas penertiban itu. Mereka sepertinya hanya bertugas jika ada surat tugas. Di saat bertugas pun. Mereka kadang keterlaluan. Bukan main kasarnya. Pentungan yang ditentengnya kesana kemari. Memang betul digunakan dalam arti sesungguhnya

Kasihan juga mereka. Dalam hati, mereka menjerit. Tapi mereka menutupi itu. Jika tahu mereka kepada siapa menjerit. Maka mereka akan berteriak. “ aku ingin bebas, dan aku ingin sekolah. Jika memang itu keadaanya maka itu adalah kewajaran. Pembangunan yang semakin bangkit agaknya menambah kehadiran merka. Walaupun pernah di tankap. Mereka tidak pernah jera rupanya.

Kehidupan kota, yang dihiasi lampu indah jikalau malam. Lantunan klason apabila sudah pagi. Kesibukan akan pekerjaan kantor. Tapi bagi mereka.Kebutuhan akan perekonomian diprioritaskan dahulu. Karena itu mereka  di jalanan.  Satu hal yang mengganjal. Yaitu : mereka tidak mau di karantinakan disuatu tempat. Atau  disekolahkan, apalagi di ajarkan sesuatu yang sangat berguna. Mereka sudah biasa di jalanan. Lahir dijalanan. Bekerja di jalanan. Mati pun mungkin juga di jalanan. Kembali pada potongan lirik lagu itu. Dari pada merampok lebih baik mengamen. Halal itu sudahlah cukup.

Belumlah terlihat. Siapa yang bertanggung jawab akan  hal ini. Kalau kepada  orantua mereka. Tidak lah mungkin. Kepada pemerintah pun jugalah tidak mungkin. Orangtua mereka sudah lah miskin dan ada yang tega pada mereka. Pemerintah masih saja terpaku pada koruptor yang bersembunyi dibawah meja. Masyarakat mungkin iya. Tidak ada lagi guna bergantung pada pemerintah. Mereka hanya memperpanjang dan menjalankan prosedur. Adapun mereka juga sedang mengurusi kita. Rakyat Indonesia yang malang dan malu pada rakyat asing.

Soekarno pernah berkata.”berika aku sepuluh pemuda akan ku goncangkan dunia”. Anak jalanan adalah bagian dari mereka. Pemuda yang menggoncang kan dunia. Liintang pungkang mereka seharian. Mencari nafkah untuk sesuap nasi malam hari. Tidak kah masyarakat kasihan akan mereka, anak jalanan.

Benar juga. Kadang untuk apa kita mengasihi mereka. Mereka pun tidak akan pernah berhenti untuk itu. Tapi biarlah itu ditiup angin. Mereka tidak lah salah. Mereka hanya terlanjur basah. Kalau mereka tidak dilahirkan di jalanan. Maka mereka akan tertawa gembira disekolahan. Perlu ada rasa yang dalam kalau menemui mereka.

Akan ada kegoyahan hati. Jika menatap mata mereka itu. Perasaan benci, tidak sudi , dan jijik wajarlah ada. Karena kita memang tidak seperti mereka. Bagi mereka sudah lah sopan dan baik pakaian itu. Sudah nyaman tidur di emperan. Dan sudah kenyang makan di trotoar jalan raya.

Berbicara mengenai agama. Mereka pun belum lah tahu betul dengan agama. Bisa dibilang mereka islam disebabkan keturunan. Ini akan dikembalikan kepada pemuka agama. Pemuka agama yang tidak menyesatkan. Maksudnya, pemuka agama yang memang menjalankan perintah allah dan menjauhi larangannya.  Mereka yang di jalanan itu bisa dikatakan bagian dari orang awam. Mereka bodoh jika ditnya permasalahan sains. Sedikitnya mereka hanya paham perihal kunci gitar, untuk membentuk lirik indah.



 oleh : almatin avichena
anak jalanan ....tarandam