Taman melati, 6 november 2010 jam 15. 30 WIB Adzan ashar terdengar berkumandang dari masjid taqwa pasar raya padang. Anak anak berlarian di tepi pagar museum aditiyawarman. Hanya sekilas tawa dan canda mereka yang berlarian perlahan menghilang, suasana kembali sepi. Hari ini masyarakat kota padang seperti menghilang ditelan bumi. “ kalian di mana …?” ku lontarkan teriakan itu sekuat tenaga. Kemaren mereka ramai mendatangi ku tanggal 25 september 2010. Mahasiswa dan siswa – siswa SMA menaburkan bunga di kaki ku dan di jalanan di depan ku. Setelah itu mereka pergi dari hadapan ku. Hanya ukiran 383 nama korban meninggal dunia, batu peresmian ku dan 4 buah batu yang menuliskan perasaan saat gempa 30 september 2009 lalu.
Sebuah mobil APV berhenti tiba - tiba di areal monument. Sejenak belum ada satu pun orang yang keluar dari mobil tersebut. Perlahan kaca jendela nya pun turun. Terlihat seorang wanita paruh baya dengan selendang hitam yang sedang menutup hidungnya dengan tisu. kaca mata hitamnya membawa suasana pengunjung monument pada hadirat kematian. Seluruh pengunjung terpaku akan penampilannya. Di senggang waktunya 2 orang remaja berbisik “ seperti di dalam film saja , norak abis deh “. Tawa mereka mencairkan suasana yang tegang, karena sikap wanita paruh baya itu. Belum sempat wanita tua itu turun mobil sudah kembali di pacu . pengunjung yang terpaku merasa heran dengan tingkah wanita paruh baya tersebut. Aku rasa wanita itu hanya mencoba melupakan kenangannya pada satu korban yang terukir di antara beberapa nama di badan ku.
Dari arah laut, langit sudah merubah warnanya menjadi kemerah merahan. Beberapa pasangan mendatangi ku. Dengan modal 2 MP mereka mengadukan kepalanya dan memanyunkan mulutnya “ ciiis “ mereka memencet tomblo kamera. Hati ku sangat kesal, ingin rasanya aku di robohkan kembali oleh gempa dengan kekuatan yang sama.
“ dasar .. mereka tidak pernah merenungi korban yang di torehkan di badan ku….” Setiap hari mereka dating dan berfoto bersama ku. Hanya 30 % dari 100 % pengunjung yang dating untuk mernungkan nasib di depan ku. Di mulai dari yang tua hingga anak remaja. Mereka sesekali tertawa dengan saudaranya. Satu persatu ada yang menghitung jumlah korban yang terukir di dalam sebuah batu. Ada juga yang membaca karya sastra beberapa pejabat yang berada tepat di belakang batu peresmian. Beberapa di antara pengunjung masih ada yang datang untuk mengingat kesalahan nya masa lalu.