Rabu, 17 November 2010

Ketegangan Antropologi Pra penulisan 17 november 2010


Kamis, 4 november 2010 adalah saat menegangkan bagi mahasiswa jurnalistik semester tiga. Etnografi adalah kata yang membeku di benak kami semua.  Bebrapa orang sibuk mencetak tulisannya di printer. Beberapanya lagi berdesak – desakan untuk menjilid tulisannya. Hari ini memang kebetulan sekali,  dosen komunikasi dalam al qur’an tidak masuk, kami pun bisa bersantai setelah semalaman begadang.
Suasana kampus yang sepi menyontak ramai. Canda tawa dan saling ejek menjadi program utama di setiap waktu senggang. Tiupan bayu pun hanya menjadi iklan drama kami. Insting waktu yang luar biasa membawa kami pada lokal ketegangan.  Alunan nyanyian ala pop dan rock di putar dari sebuah hand phone milik heru.  Rasanya tidak ada kata sepi bagi prodi ini, keributan yang menjadi ciri khas pada waktu senggang.
Detik terakhir pada suasana menegangkan sudah mulai terasa. Dosen yang di tunggu sudah memasuki batas terakhir drama canda dan tawa. “ kumpulkan tulisannya !” perintah itu seolah tidak memberi luang bagi kami yang biasanya mempunyai seribu alasan untuk menghilangkan kewajiban.  Kitab kuning yang berisikan nama seluruh mahasiswa jurnalistik semester tiga di bacakan. Satu persatu di sodorkan sebuah pertanyaan sederhana “ apa itu kebudayaan ?”. tidak ada satu pun mahasiswa yang menjawab benar .  
Suasana yang  semakin tegang tanpa referensi merasuk kedalam dada.  Hingga di cairkan dengan sebuah cerita tentang kebudayaan dan garis keturunan yang tertua di Indonesia yaitu matrilineal.critanya bermula dari sekolompok wanita yang tinggal di suatu perkampungan tanpa seorang laki laki. Mereka memenuhi kebutuhan biologisnya dengan memilih laki laki yang datang dan di sukainya.  Kebutuhan sehari harinya di dapatkan dari alam. Karena wanita yang menguasai semua kebutuhan pokok maka di kenal dengan matriarkat ( wanita yang berkuasa ). Tanpa adanya proses pernikahan, anak anak yang di hasilkan dari proses biologisnya tidak dapat di ketahui siapa ayahnya. Karena itu anak anak tersebut tinggal di pihak ibu maka ini di kenal dengan istilah matrilokal ( tinggal dalam keluarga perempuan ).
Kebutuhan pokok yang semakin menipis pada kelompok wanita, mengharuskan laki laki turun tangan untuk berburu. Laki laki yang ingin jelas keturunannya memaksa wanita untuk setia pada satu orang laki laki saja. Kesetian ini merobah paham garis keturunan matrilenal ( keturunan ibu ) dengan patrilineal ( garis keturunan bapak ). Ketiak keutuhan pokok sudah di kuasai laki laki maka muncullah istilah patriarkat ( kekuasaan laki laki ).  Keinginan laki laki atas keturunan yang jelas memaksa anak untuk pindah pada keluarga bapak maka dikenal istilah patrilokal.
Berbeda dengan suku minang yang bertentangan dari cerita tersebut. Mereka memakai system matrilineal ( garis keturunan ibu ) patriarkat ( kekuasaan milik bapak ), matrilokal ( tinggal dalam keluarga perempuan ). Kami yang termenung mendengarkan cerita tersebut hanya bisa meng anggukan kepala dan tersenyum .  Anggukan yang menonjolkan keanehan antara paham atau tidak.
System baru yang muncul pada cerita tersebut adalah system perkawinan, endogamy dan eksogami. Endogami adalah perkawinan yang  mengaruskan mencari pendamping di dalam kampung sendiri. Berbeda dengan ekso gami yang membiarkan mencari pasangan di luar kampung sendiri. Penjelasan pun berhenti ketika semua mahasiswa seperti mengerti  dengan itu. Adzan terdengar berkumandang ini adalah pertanda bahwa jam kuliah akan berakhir. Senyuman terbesit di antara mahasiswa, mereka mulai bergerak dan merobah gaya duduknya. Ketegangan ini sudah akan berakhir, drama canda dan tawa akan di  mulai lagi. Tapi tugas masih tetap tidak terhelakan. Walaupun begitu kami merasakan waktu akan panjang untuk di ulur pengerjaannya.

aidina fitra

Senin, 15 November 2010

HILANG , MONUMENT GEMPA7,9 SR PADANG


Taman melati, 6 november 2010 jam 15. 30 WIB Adzan ashar terdengar berkumandang dari masjid taqwa pasar raya padang. Anak anak berlarian di tepi pagar museum aditiyawarman. Hanya sekilas tawa dan canda mereka yang berlarian perlahan menghilang, suasana kembali sepi. Hari ini masyarakat kota padang seperti menghilang ditelan bumi. “ kalian di mana …?” ku lontarkan teriakan itu sekuat tenaga. Kemaren mereka ramai mendatangi ku tanggal 25 september 2010. Mahasiswa dan siswa – siswa SMA menaburkan bunga di kaki ku dan di jalanan di depan ku. Setelah itu mereka pergi dari hadapan ku. Hanya ukiran 383  nama korban meninggal dunia,  batu peresmian ku dan 4 buah batu yang menuliskan perasaan saat gempa 30 september 2009 lalu.

Sebuah mobil APV berhenti tiba -  tiba di areal monument. Sejenak belum ada satu pun orang yang keluar dari mobil tersebut. Perlahan kaca jendela nya pun turun. Terlihat seorang wanita paruh baya dengan selendang hitam yang sedang menutup hidungnya dengan tisu. kaca mata hitamnya membawa suasana pengunjung monument pada hadirat kematian. Seluruh pengunjung terpaku akan penampilannya. Di senggang waktunya 2 orang remaja berbisik “ seperti di dalam film saja , norak abis deh “. Tawa mereka mencairkan suasana yang tegang, karena sikap wanita paruh baya itu. Belum sempat wanita tua itu turun mobil sudah kembali di pacu . pengunjung yang terpaku merasa heran dengan tingkah wanita paruh baya tersebut. Aku rasa wanita itu hanya mencoba melupakan kenangannya pada satu korban yang terukir di antara beberapa nama di badan ku.

Dari arah laut, langit sudah merubah warnanya menjadi kemerah merahan. Beberapa pasangan mendatangi ku. Dengan modal 2 MP mereka mengadukan kepalanya dan memanyunkan mulutnya “ ciiis “ mereka memencet tomblo kamera. Hati ku sangat kesal, ingin rasanya aku di robohkan kembali oleh gempa dengan kekuatan yang sama.

 “ dasar .. mereka tidak pernah merenungi korban yang di torehkan di badan ku….”  Setiap hari mereka dating dan berfoto bersama ku. Hanya 30 % dari 100 % pengunjung yang dating untuk mernungkan nasib di depan ku. Di mulai dari  yang tua hingga anak remaja. Mereka sesekali tertawa dengan saudaranya. Satu persatu ada yang menghitung jumlah korban yang terukir di dalam sebuah batu. Ada juga yang membaca karya sastra beberapa pejabat yang berada  tepat di belakang batu peresmian. Beberapa di antara pengunjung masih ada yang datang untuk mengingat kesalahan nya masa lalu.